Satelit buatan Indonesia dan Jumlah satelit milik Indonesia

Posted: 9 November 2011 in Tehnologi

Indonesia termasuk negara yang memiliki potensi yang besar dalam pengembangan teknologi satelit/satellite, selain letak geografis yang tepat pada garis katulistiwa sehingga memudahkan dalam peluncuran satelit indonesia juga mempunyai Sumber Daya Manusia (sdm) yang tidak kalah pintarnya dibanding dengan negara lain yang maju.

  Satelit Indonesia

Indonesia adalah negara pertamakali memiliki satelit di negara bagian asia tenggara, banggakan..! nah berikut ini daftar satelit yang dimiliki oleh indonesia yang saya ambil datanya dari wikipedia.

No. Nama Mulai Operasi
(diluncurkan)
Akhir Operasi Slot Orbit Pengelola Wahana luncur Pembuat Keterangan
1. Palapa A1 8 Juli 1976 Juni 1985[1] 83° BT Perumtel Delta-2914 Hughes (HS-333)[2] Diluncurkan dari Kennedy Space Center, Tanjung Canaveral, Amerika Serikat.
2. Palapa A2 10 Maret 1977 Januari 1988[1] 77° BT Perumtel Delta-2914 Hughes (HS-333)[2] Diluncurkan dari Kennedy Space Center.
3. Palapa B1 18 Juni 1983[3] 1990 108° BT Perumtel Challenger F2
(STS-7)
Hughes (HS-376)[2] Diluncurkan menggunakan pesawat ulang-alik.
4. Palapa B2 3 Februari 1984
8:00 EST
Gagal Perumtel Challenger F4
(STS-41-B)
Hughes (HS-376)[2] dilepas dari wahana pada 16:00 EST[4], gagal dan dijemput oleh STS-51A pada November 1984[1]
5. Palapa B2P 21 Maret 1987 Februari 1996[1] 113° BT Perumtel
Satelindo
Delta 6925 Hughes (HS-376) Beralih kepemilikan ke Satelindo pada 1993,[2] dan diganti Palapa C1.[1]
6. Palapa B2R 13 April 1990 2000 108° BT Perumtel Delta 6925 Hughes (HS-376) Merupakan Palapa B2 yang diperbaiki oleh Sattel Technologies,[1]
7. Palapa B4 14 Mei 1992
7:40 WIB[5]
2005[2] 118° BT Telkom Delta II-7925 Hughes (HS-376) Diluncurkan dari Kennedy Space Center.
8. Palapa C1 31 Januari 1996 1999 113° BT Satelindo Atlas-2AS Hughes (HS-601) Diluncurkan dari Tanjung Canaveral LC-36B.[6]
Gagal beroperasi sehingga pada Januari 1999 beralih kepemilikan ke Hughes dan berganti nama menjadi HGS3.
Desember 2000 disewa Kalitel dari AS di 50º BT dan menjadi Anatolia 1, Agustus 2002 disewa Pakistan di 38ºBT menjadi Paksat1.[7]
9. Palapa C2 15 Mei 1996 2011[6] 113° BT Satelindo
Indosat
Ariane-44L H10-3 Hughes (HS-601) Diluncurkan dari Kourou, Guyana Perancis.[6]
Orbit akan dipindahkan ke 105,5° BT karena 113° BT akan ditempati Palapa D.[8]
10. Indostar I (Cakrawarta I) 12 November 1997 2011 107,7° BT[9] Indovision Ariane-44L H10-3[10] CTA -> Orbital Sciences Corporation (OSC)
(Star-1)
Diluncurkan dari dari Kourou, Guyana Perancis.
11. Telkom-1 12 Agustus 1999,
21:48 UTC
2016 108° BT Telkom Ariane IV Lockheed Martin
(A2100A)[2]
12. Garuda-1 12 Februari 2000[11] 2015 123° BT[12] Asia Cellular Satellite (ACeS) Proton K Blok-DM3 Lockheed Martin
A2100AXX[13]
ACeS adalah patungan PSN dan perusahaan asing.[14]
Diluncurkan dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan.
13. Telkom-2 16 November 2005 Beroperasi 108° BT Telkom Ariane V Orbital
(Starbus 2)[2]
Diluncurkan dari dari Kourou, Guyana Perancis.
14. INASAT-1 2006 Satelit pertama buatan Indonesia.
15. LAPAN-TUBSAT 2007 Satelit mikro pertama Indonesia.
16. Indostar II (Cakrawarta II) 16 Mei 2009, 7:58 WIB 2024 107,7° BT Indovision Proton-M Briz-M Boeing
(BSS-601HP)
Diluncurkan dari Baikonur Cosmodrome (LC-200/39), Kazakhstan.[15][16]
17. Palapa D 31 Agustus 2009 16:28 WIB 2024 113° BT Indosat Long March 3B Thales Alenia Space
(Spacebus-4000B3)
Diluncurkan dari Xichang Satellite Launch Center (XSLC), Cina.
Menggeser orbit Palapa C2 dari 113° BT ke 105,5° BT.
18. Telkom-3 2011 2026 ? Telkom Proton-M Briz-M ISS Reshetnev
(Ekspress-1000N)
& Alcatel (Payload)
Proses tender selesai pada Desember 2008.[17]

pada tahun 2012 indonesia akan meluncurkan satelit buatan sendiri ke orbitnya, satelit buatan anak negeri ini sudah dibahas pada tahun 2009 lalu, yang dihadiri oleh dari berbagai perguruan tinggi di indonesia diantaranya ITB, ITS, UI, UGM, dll.

Lapan-Tubsat, Satelit Buatan Indonesia Yang Masih Mengorbit

Satelit Lapan-Tubsat. (foto: ist)

JAKARTA (jurnalberita.com) – Lapan-Tubsat, satelit mikro atau satelit berukuran kecil dengan bobot 57 kg. Satelit ini berorbit polar atau mengelilingi bumi dengan melewati kutub, dan melewati wilayah Indonesia sebanyak dua kali dalam satu hari.

Satelit pertama buatan Indonesia, yang dikembangkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) bekerja sama dengan Universitas Teknik Berlin (Technische Universität Berlin; TU Berlin) ini, ternyata hingga kini masih mengorbit dan berfungsi dengan baik. Padahal, dalam rancangan awal, satelit ini diperkirakan hanya akan berusia tidak lebih dari dua tahun.

“Keberhasilan ini merupakan bukti bahwa insinyur Indonesia mampu membuat satelit yang andal,” kata Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lapan, Prof. Dr. Ing. Soewarto Hardhienata, Dipl. Ing.n.

Menurutnya, Lapan-Tubsat, masih berfungsi baik dan masih terus mengirimkan gambar dari ruang angkasa. Bahkan, jika tidak ada anomali, Lapan-Tubsat diperkirakan masih terus beroperasi hingga beberapa tahun lagi. Ini merupakan hal yang luar biasa bagi sebuah satelit mikro karena banyak satelit semacam ini hanya berusia dua tahun.

Selama empat tahun, Lapan-Tubsat telah menghasilkan berbagai video pemantauan bencana misalnya gunung meletus, pemantauan kebaSatelit Buatan Manusia

Satelit adalah benda yang mengorbit benda lain dengan periode revolusi dan rotasi tertentu. Ada dua jenis satelit yakni satelit alam dan satelit buatan. Sisa artikel ini akan berkisar tentang satelit buatan.

Satelit buatan manusia pertama adalah Sputnik 1, diluncurkan oleh Soviet pada tanggal 4 Oktober 1957, dan memulai Program Sputnik Rusia, dengan Sergei Korolev sebagai kepala disain dan Kerim Kerimov sebagai asistentnya. Peluncuran ini memicu lomba ruang angkasa (space race) antara Soviet dan Amerika.

Sputnik 1 membantuk mengidentifikasi kepadatan lapisan atas atmosfer dengan jalan mengukur perubahan orbitnya dan memberikan data dari distribusi signal radio pada lapisan ionosphere. Karena badan satelit ini diisi dengan nitrogen bertekanan tinggi, Sputnik 1 juga memberi kesempatan pertama dalam pendeteksian meteorit, karena hilangnya tekanan dalam disebabkan oleh penetrasi meteroid bisa dilihat melalui data suhu yang dikirimkannya ke bumi.
Sputnik 2 diluncurkan pada tanggal 3 November 1957 dan membawa awak mahluk hidup pertama ke dalam orbit, seekor anjing bernamaLaika.

Satelit buatan manusia pertama adalah Sputnik 1, diluncurkan oleh Soviet pada tanggal 4 Oktober 1957, dan memulai Program Sputnik Rusia, dengan Sergei Korolev sebagai kepala disain dan Kerim Kerimov sebagai asistentnya. Peluncuran ini memicu lomba ruang angkasa (space race) antara Soviet dan Amerika.

Sputnik 1 membantuk mengidentifikasi kepadatan lapisan atas atmosfer dengan jalan mengukur perubahan orbitnya dan memberikan data dari distribusi signal radio pada lapisan ionosphere. Karena badan satelit ini diisi dengan nitrogen bertekanan tinggi, Sputnik 1 juga memberi kesempatan pertama dalam pendeteksian meteorit, karena hilangnya tekanan dalam disebabkan oleh penetrasi meteroid bisa dilihat melalui data suhu yang dikirimkannya ke bumi.

Sputnik 2 diluncurkan pada tanggal 3 November 1957 dan membawa awak mahluk hidup pertama ke dalam orbit, seekor anjing bernamaLaika.

Satelit terbagi atas 6 kelompok besar, yaitu:

  1. Satelit untuk riset ilmiah/penelitian.
  2. Satelit cuaca
  3. Satelit komunikasi
  4. Satelit Navigasi
  5. Satelit Pengamat Bumi / Observasi Bumi
  6. Satelit Keperluan militer

Satelit komunikasi pertama diluncurkan pada tahun 1962 berupa satelit telepon dan televise oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dan AT&Tís. Kemudian pada tahun 1964, Departemen Pertahanan As meluncurkan Syncom 3. Syncom 3 adalah satelit komunikasi pertama yang orbitnya di atas ekuator bumi. Sejak meluncurnya satelit Palapa dari Indonesia pada tahun 1976, Indonesia juga telah beberapa satelit komunikasi. Hingga saat ini lebih dari 300 satelit komunikasi telah diluncurkan dari berbagai Negara.

Satelit cuaca pertama diluncurkan oleh NASA,TIROS 1 (Television Infrared Observation Satellite) pada 1960. Kemudian NASA mengoperasikan GOES (The Geostationary Operational Environmental Satellite) yang menyediakan informasi prakiraan cuaca, termasuk jejak badai. Sementara Eropa memiliki satelit cuaca Meteosat 3. NOAA (The National Oceanic and Atmospheric Administration) mengoperasikan 3 satelit untuk mengumpulkan data cuaca dalam jangka panjang. Jason 2 adalah satelit terbaru yang diluncurkan untuk memantau permukaan samudera yang tidak tertutup es.

Satelit Navigasi digunakan untuk membantu lokasi kapal, pesawat, bahkan mobil yang dilengkapi radio penerima khusus. Satelit navigasi pertama adalah Transit 1B yang diluncurkan Angkatan Laut AS mengoperasikan tahun 1960 dan beroperasi 1966. Kemudian Angkatan Udara AS mengoperasikan system NAVSTAR GPS (Global Positioning System) yang terdiri dari 24 satelit. GPS dapat menunjukkan satu lokasi dengan sangat akurat. Selain As, Rusia juga mengoperasikan GLONASS (Global Orbiting Navigation Satellite System) yang juga terdiri dari 24 satelit. Komisi Eropa dan Badan Antariksa Eropa ESA berncana meluncurkan satelit navigasi sipil Galileo yang akan beroperasi pada tahun 2013.

Satelit militer mirip dengan satelit komunikasi dan navigasi, namun data yang dikirimkan hanya dapat diterima oleh penerima khusus.

DSCS (The Defense Satellite Communications System) terdiri dari 5 wahana antariksa dengan orbit geostasioner. DSCS mentransmisikan suara, data, dan siyal televisi di antara situs-situs militer. DSP (The Defense Support Program) digunakan untuk memperingati jika ada peluncuran rudal. DMSP (The Defense Meteorological Satellite Program) adalah salah satu contoh satelit militer yang menyediakan data untuk masyarakat umum. DMSP memantau cuaca global.

Satelit penelitian digunakan untuk mempelajari tentang alam semesta ini. Teleskop ruang angkasa Hubble merupakan observatorium yang digunakan untuk meneliti alam semesta.

Satelit pengamat bumi merupakan satelit yang dirancang khusus untuk mengamati bumi. Serangkaian satelit EOS The Earth Orbiting System milik NASA yang diluncurkan pada 1997 merupakan salah satu contoh satelit pengamat bumi. Satelit bumi beredar pada orbit geostasioner dan orbit polar.

Orbit geostasioner memungkinkan satelit berada di titik yang sama di atas bumi, sehingga bisa memantau permukaan terus menerus.

Orbit polar memungkinkan pemantauan global, tetapi hanya bisa mengamati satu titik dua kali.

Sumber : Kompilasi dari bebagai sumber.

karan hutan, dan pemantauan perkembangan Jembatan Suramadu.

Bahkan, menurut Kepala Bidang Teknologi Ruas Bumi Dirgantara Lapan, Chusnul Tri Judianto, ST, Lapan dapat mengambil gambar letusan Gunung Merapi pada 2010. Saat itu, satelit-satelit penginderaan jauh milik negara-negara maju, tidak dapat mengambil gambar gunung itu karena seluruh wilayah udara di Merapi tertutup awan akibat erupsi.

  • 14 Februari 2011

Satelit Buatan Rancabungur

Matahari belum menampakkan diri di Bubulak, pinggiran Bogor. Jarum jam baru menunjukkan pukul 05.30. Tapi Wahyudi Hasbi sudah buru-buru meninggalkan rumahnya dengan mobil dinas Avanza. Setelah bertemu dengan empat rekannya, ia tancap gas melewati jalan tol Jagorawi menuju Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma di Jakarta.

Wahyudi bukan buru-buru hendak pulang kampung menggunakan pesawat Cessna sewaan yang sudah menunggu di sana. Tapi ia dan empat rekannya-termasuk dua orang Jerman ahli kamera satelit-ingin melakukan uji coba kamera yang akan dipasang di satelit Lapan A3 (Lapan-Orari). “Kami melakukan dua kali,” katanya menuturkan pengujian yang ia lakukan beberapa waktu silam.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) sedang membuat dua satelit yang akan diluncurkan bersamaan sekitar setengah tahun lagi. Keduanya adalah satelit Lapan A3, yang dikenal juga sebagai Lapan-Orari, serta Lapan A2. Kedua satelit ini bakal menjadi satelit pertama yang dirancang dan dirakit di dalam negeri.

Uji coba dan pemasangan modul untuk dua satelit itu terus dijalankan, termasuk pekan lalu di kawasan Ancol, Jakarta. “Kami menguji perangkat AIS,” kata chief engineer untuk program La-pan A3 itu. AIS atau Sistem Identifikasi Otomatis Maritim adalah peranti yang diwajibkan Organisasi Maritim Internasional (IMO) bagi kapal berbobot di atas 300 ton.

Pemancar relai AIS biasanya di darat dengan jangkauan hanya 50 mil laut (92 kilometer). Lapan berniat memasang relai AIS di satelitnya sehingga bisa dibaca dengan jangkauan lebih luas. Di Ancol, mereka merekam data kapal yang mondar-mandir di sekitar Pela-buhan Tanjung Priok.

Proyek pembuatan satelit kembar itu merupakan lanjutan dari satelit pertama buatan Indonesia yang dirakit melalui kerja sama dengan Technical University of Berlin (TUB), Jerman, yakni Lapan-TUBSat. Lapan-TUBSat bekerja sangat baik, bahkan melebihi harapan, sampai saat ini.

Saat pembuatan Lapan-TUBSat di Jerman, para insinyur Lapan serius mempelajari teknik dan seluk-beluknya. “Kontraknya memang termasuk transfer teknologi,” kata Kepala Bidang Teknologi Ruas Bumi Dirgantara La-pan Chusnul Tri Judianto.

Keberhasilan merakit Lapan-TUBSat membuat para ilmuwan itu yakin bisa membuat sendiri. Mereka pun menyusun program membuat satelit Lapan A2 dan Lapan A3, yang merupakan turunan Lapan-TUBSat-satelit yang dalam pendaftaran resmi di Uni Telekomunikasi Dunia disebut satelit Lapan A1.

Meski turunan, satelit kembar yang dirancang dan dirakit di Pusat Teknologi Elektronik Dirgantara Lapan di Rancabungur, pinggiran Bogor, itu berbeda dengan Lapan-TUBSat. Perbedaan pertama adalah garis lintasannya. Lapan-TUBSat membuat garis orbit dari utara ke selatan alias kutub ke kutub, sedangkan A2 dan A3 mengikuti garis khatulistiwa.

Dengan lintasan dari kutub ke kutub, hanya empat kali sehari satelit lewat di atas langit Indonesia. Dengan lintasan melintang mengikuti khatulistiwa, satelit A2 dan A3 bakal setidaknya 14 kali sehari lewat Indonesia sehingga bisa bekerja lebih banyak menghasilkan data. Selain beda lintasan, satelit kembar ini tidak berbeda jauh dengan La-pan-TUBSat. “Kita tidak mau bereksperimen terlalu jauh,” kata Chusnul.

Lapan A2 dan A3 hampir mirip. Hanya, A2 menggunakan kamera video sebagai alat utama, sedangkan A3 menggunakan kamera foto yang akan memotret bumi. Satelit A3 ini juga dimaksudkan sebagai alat bantuan bencana sehingga menjadi alat relai radio amatir Orari. Pertimbangannya sangat sederhana. “Saat bencana di tempat terpencil, biasanya Orari itu yang paling cepat masuk,” kata Chusnul.

Lapan sudah menjadwalkan peluncuran pada tahun ini dan, seperti satelit Lapan-TUBSat, akan menumpang roket India. Peluncuran dari India menguntungkan karena mendapat diskon harga. Biaya numpang satelit itu mestinya sekitar Rp 1 miliar, tapi kemudian didiskon separuhnya. Harga ini didapat karena India menumpang Indonesia mengendalikan satelit mereka dari Biak.

Sebelum dirakit, mereka ingin memastikan semua modul berjalan baik. Mereka tidak ingin mengalami nasib seperti Malaysia dan satelit buatannya, RazakSat-tidak jelas hasilnya setelah diluncurkan 2009. RazakSat semestinya sudah mengirim gambar tahun lalu, tapi sampai sekarang tidak ada beritanya.

Komentar
  1. mat alim mengatakan:

    Bagus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s