Mengapa Saya Memilih Teknologi Kelautan ?

Posted: 19 November 2012 in Maritim
Tag:,

Indonesia adalah sebuah negara yang diakui sebagai negara kepulauan semenjak adanya Deklarasi Djoeanda tahun 1957. Dalam hal ini laut adalah suatu hal yang di utamakan. Hal ini berdasarkan dari sejarah nenek moyang bangsa Indonesia sendiri yang merupakan sebuah bangsa maritim yang kuat yang mampu menguasai lautan Nusantara ini. (Yamin, 2009)

Faktanya, pada era ini arti dari negara kepulauan sendiri berbeda dengan arti dan maksud sesungguhnya. Negara kepulauan hanyalah sebuah kata yang menjadi kata yang diingat di setiap fikiran insan di bangsa ini, namun tidak sejalan dengan praktek sesungguhnya. Negara kepulauan sebenarnya lebih mengutamakan di kebahariannya, namun untuk Indonesia sendiri laut hanyalah seperti sebuah potensi yang tertidur. Bangsa Indonesia sendiri justru lebih mengutamakan pembangunan di sektor darat, dan meninggalkan kebahariannya. (napitupulu, 2009)

Sampai saat ini sektor laut untuk negara Indonesia lebih banyak dikuasai investor asing. Banyak kapal-kapal asing di Indonesia namun berbendera Merah Putih, dan minimalya kapal milik Indonesia sendiri yang layak pakai. Bahkan dalam bidang pertahanan, kurangnya perhatian pemerintah pada pertahanan sektor laut membuat lemahnya pertahanan negara ini. Padahal pertahanan laut adalah suatu hal yang sangat penting bagi negara kepulauan ini yang luas lautnya 2/3 dari luas keseluruhan. Bahkan semboyan Jalesveva Jayamahe milik angkatan laut Indonesia yang artinya di laut kita jaya tidak akan ada artinya tanpa adanya bantuan dari pihak pemerintah sendiri untuk mempertahankan negara kepulauan Indonesia ini. (Mukhtar, 2008)

Salah satu keberhasilan pemerintahan kolonial yaitu membangun ingatan kolektif baru bahwa anak-anak negeri ini bukan pelaut. Dengan satu dan cara lain, kita sebagai bangsa diposisikan sebagai manusia daratan, dimana aktivitas pertanian adalah yang utama. Hingga kini. (Yamin, 2009)

Laut diyakini akan jadi tumpuan masa depan bagi umat manusia, lebih-lebih bagi Indonesia yang sebagian besar wilayahnya berupa laut. Di dalamnya begitu banyak sumber daya alam yang belum tergarap dan dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan umat manusia. (Hadinoto, 2009)

Kesadaran wilayah Indonesia sebagai Negara maritim, yang 2/3 luasnya berupa laut, begitu jauh dari generasi muda. Sebut saja mahasiswa. Kenyataan itu tidak mengherankan karena  bangsa ini memang tidak jua berpaling dari pada kekuatan sebagai negara maritim. Saat bicara tentang kelautan Indonesia yang begitu luas, yang ada di benak anak-anak muda baru sebatas kekaguman betapa sebenarnya Indonesia ini luar biasa. Angan-angan pun melambung, membayangkan betapa Indonesia bisa jadi negara makmur jika mampu memanfaatkan sumber daya alam di laut yang belum banyak dilirik dalam pembangunan bangsa. (napitupulu, 2009)

Ironisnya, ketika laut jadi incaran banyak orang, ketika dunia makin percaya bahwa masa depan umat manusia berada di laut, kita sebagai bangsa yang lebih dari dua pertiga wilayahnya berupa laut justru masih saja berpaling ke darat. Laut diposisikan sebagai halaman belakang, sekedar tempat leyeh-leyeh, menikmati senja matahari terbenam. Deklarasi juanda sendiri telah menegaskan bahwa bangsa Indonesia sebagai negara kepulauan dalam kenyataannya pun tidak diikuti kebijakan-kebijakan yang lebih berorientasi pada pembangunan bermatra kelautan. Kini justru yang dibangga-banggakan adalah sebagai negara agraris. Walaupun kenyataannya kita masih harus impor kebutuhan pokok. (Hadinoto, 2009)

Dana APBN dari negara sendiri untuk pembangunan di kelautan sangat minim, berbeda dengan pembangunan di sektor darat. Faktor kecilnya perhatian pemerintah ini membut kedaulatan Indonesia terancam. Negara dengan panjang pantai terpanjang kedua ini di dunia sangat sulit untuk mempertahankan kedaulatannya terutama di laut. Keterbatasan juga terjadi dalam peralatan pertahanan milik TNI AL sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan teknologi. Hal ini menjelaskan bahwa penjaga laut tidak sebanding dengan wilayah laut yang harus di awasi. (Mukhtar, 2008)

Bukan tidak mungkin pula jika selat malaka yang selama ini ditolak Indonesia dan Malaysia dalam segala hal Internationalisasi, mampu dijadikan sebagai selat Internationalisasi untuk pelayaran bangsa-bangsa seperti Amerika, Jepang, dan Inggris. Bahkan Singapura sendiri pun juga ikut serta dalam hal menginternasionalisasi selat malaka demi kemajuan pelabuhan mereka. Ini akibat kurangnya perhatian pemerintah dalam hal territorial negara ini. (grammys@kompas.com, 2009)

Kondisi ini jauh berbeda dengan Singapura, sebagai negara tetangga Indonesia. Peranan pulau-pulau yang tadinya sangat penting dalam jalur perdagangan termasuk kepulauan Riau, tenggelam dengan mencuatnya Singapura. Negeri Singa itu justru berkembang menjadi negara maju dengan pelabuhan yang penting bagi dunia. Hal itu akibat dari Indonesia sendiri yang berfokus ke darat dan mengabaikan watak dasar keindonesiaan sebagai negara maritim. Akibatnya pengembangan laut bagi kesejahteraan bangsa pun semakin jauh. Sebagai generasi muda bangsa ini saya harus bisa mewujudkan kekuatan Indonesia kembali sebagai negara maritim yang unggul dalam perdagangan dunia dan segala aspek. (napitupulu, 2009)

Dalam hal ini memang para mahasiswa diajak untuk bisa bekerjasama untuk mengembangkan potensi laut yang masih terlupakan. Sebagai seorang anak bangsa kita dituntut untuk bisa membangun sesuatu potensi yang tertidur ini, dalam maksud potensi kelautan Indonesia. Karena selama ini pembangunan bahari seolah-olah diinggalkan sehingga keberadaan pulau-pulau terluar dan pulau-pulau kecil terabaikan. Begitu juga dengan penggalian sumber daya bahari yang berlimpah belum tergarap dengan baik. (napitupulu, 2009)

Dalam beberapa tahun terakhir ini memang ada kegiatan-kegiatan yang bertujuan merajut simpul-simpul ke-Indonesian yang diselenggarakan Direktorat Geografi Sejarah Departemen Kebudayan dan Pariwisata. Sebut saja kegiatan Arung Sejarah Bahari. Memang kegiatan itu ditujukan untuk menyadarkan generasi muda akan semua potensi laut Indonesia dan mengulas kejayaan bangsa ini dalam bidang maritim di masa lampau serta menumbuhkan semangat kebaharian baru pada jiwa pemuda. Hal itu memang perlu terus di adakan demi memupuk kembali semangat kebaharian di kalangan generasi pemuda (zuhdi, 2009)

Sebagai generasi muda bangsa ini saya telah tersadar bahwa kita harus bisa kembali ke dunia laut. Dengan itu saya memilih teknologi kelautan sebagai upaya untuk membuka jalan walaupun masih sepersekian kecil untuk menuju Indonesia yang berbasis negara maritim. Dalam peranan teknologi sendiri, sebagai bangsa maritim harus bisa menyesuaikan dengan teknologi masa kini. Karena teknologi terus berkembang dan tidak bersifat statis. Kesadaran diri memang diperlukan dalam kebaharian dengan mengikuti jejak kejayaan bangsa Indonesia sebagai negara maritim di masa lalu. (napitupulu, 2009)

engan tersadarnya jiwa maritim akan kejayaan bangsa Indonesia dalam hal kebaharian di masa lampau, kita harus bisa mengembalikan kejayaan itu dan bangkit dari keterpurukan di masa kini .Walaupun masih tersendat atas faktor pendanaan dan perhatian dari pemerintah, serta minat dari generasi muda dalam mempelajari teknologi kelautan. (napitupulu, 2009)

Peran dan fungsi generasi muda bangsa sangatlah penting demi kemajuan kebaharian. Sebagai penerus bangsa harus bisa membangkitkan kembali bangsa ini menjadi bangsa yang jaya seperti di masa lampau. Cara terbaik adalah dengan mempelajari teknologi kelautan, karena Indonesia adalah negara kepulauan dan dua per tiga wilayahnya adalah laut. Kita harus mengenal teknologi kelautan itu sendiri dan mampu menggunakan bahkan mengembangkan. Dukungan dari pemerintah sendiri sangat jelas diperlukan. Tidak mungkinlah generasi muda bangsa ini dapat bergerak sendiri dengan tanpa adanya campur tangan pemerintah. Bahkan seperti semboyan milik TNI-AL Jalasveva Jayamahe akan tidak ada artinya tanpa adanya dukungan dan perhatian dari pihak pemerintah sendiri yang masih cenderung memfokuskan pembangunan di darat.

by Dwiki Novditya Bagaskara Utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s