SEJARAH MARITIM INDONESIA

Posted: 19 November 2012 in Maritim
Tag:,

Sejarah maritim Indonesia adalah sejarah yang amat panjang yang telah dimulai sejak pergerakan manusia Austronesia berpindah ke kawasan Asia Tenggara. Tradisi maritim kita mungkin sekali lebih tua daripada tradisi maritime Yunani, Romawi, Mesir, Arab, India, bahkan Cina. Ini disebabkan karena nenek moyang kita hidup dalam sebuah kawasan kepulauan yang akrab dengan laut. Hasil-hasil studi mutakhir menunjukkan, bahwa pelaut-pelaut Indonesia telah mencapai Madagaskar, bahkan Afrika Barat, serta Australia, jauh lebih dahulu daripada penemuan benua Amerika oleh Columbus, maupun penemuan Australia oleh James Cook.

Nusantara mencatat 2 kerajaan maritim yang amat berpengaruh di jamannya, yaitu Kerajaan Sriwijaya (berpusat di sekitar Palembang sekarang) di abad 5-9, kemudian Kerajaan Majapahit (berpusat di Trowulan, Mojokerto sekarang) di abad 13-15. Kemudian Majapahit dijatuhkan oleh Kerajaan Demak Islam yang kemudian berhadapan dengan kedatangan para pedagang Portugis, kemudian pedagang VOC/Belanda.

Setelah datangnya VOC, secara bertahap infrastruktur maritim kerajaan-kerajaan di Nusantara satu persatu dikuasai, terutama sejak Perjanjian Bongaya dengan Arupalaka yang memberikan kewenangan laut pada VOC yang semua dikuasai oleh Kesultanan Hasanudin. Pola Bongaya ini kemudian dipakai untuk kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, sehinggga lambat laun perdagangan melalui laut dikuasai VOC. Dengan menguasai infrastruktur maritim ini, secara perlahan namun pasti, Belanda juga memaksakan cara berpikir agraris-feodal pada kaum elite kerajaan-kerajaan Nusantara sehinggga mereka semakin mudah dipecah-pecah, untuk kemudian dikuasai (politik devide at impera). Sejak saat ini, cara pandang pulau-besar (daratan) yang agraris, inward-looking, statis, hierakis, dan feudal. Cara pandang kepulauan yang dimanis, egaliter, demokratis, dan outward-looking secara perlahan-lahan menjadi asing bagi masyarakat Nusantara. Mitos dan takhayul semacam Nyai Roro Kidul yang hidup di Laut Selatan masih hidup sampai sekarang.

Dengan kepergian Belanda sejak kemerdekaan, infrastruktur maritim ini juga dibawa pergi, termasuk sistem pemerintahan di laut yang dikuasai oleh Belanda. Akibatnya, Pemerintah Soekarno terpaksa meminta bantuan Uni Sovyet (saat perang dingin) untuk menggantikan armada laut Belanda. Namun demikian, hingga saat ini, kita masih gagal membangun pemerintahan di laut yang efektif. Akibatnya, perairan Indonesia merupakan salah satu perairan tak bertuan tempat berbagai kejahatan dilakukan : illegal fishing, mining, waste disposal, human trafficking, oil smuggling, dsb. Juga jika terjadi kecelakaan di laut, kemampuan Search and Rescue kita terbatas sekali. Pulau-pulau terluar Indonesia tidak mampu kita duduki secara efektif sehingga mudah jatuh ke pemerintahan asing/tetangga.

Sementara itu, kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi di lepas pantai Indonesia dimulai sejak Orde Baru membuka kesempatan kerjasama dengan investor asing. Kegiatan migas di lepas pantai sendiri telah dimulai di Teluk Meksiko sejak 1940-an dengan menggunakan teknologi bangunan kayu sederhana di kedalaman kurang dari 40m. Hingga saat ini teknologi anjungan lepas pantai teah berkembang pesat untuk menjangkau kawasan-kawasan terjauh dengan kedalaman ratusan meter sehingga dibutuhkan jenis compliant offshore structures, termasuk berbagai jenis semi-submersibles, tension-leg platforms, dsb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s